Profile Facebook Twitter My Space Friendster Friendfeed You Tube
Kompas Tempo Detiknews
Google Yahoo MSN
Blue Sky Simple News Simple News R.1 Simple News R.2 Simple News R.3 Simple News R.4

Nasrudin Hoja

1.Gelar Timur Lenk
2.Soal Timur Lenk
3.Belajar Kebijaksanaan
4.Melatih Keledai membaca
5.Itik berkaki satu
6.Timur Lenk di akhirat
7.Harga Timur Lenk
8.Pemungut Pajak
9.Memanah
10.Jangan terlalu dalam
11.Berita baik
12.Teori kebutuhan
13.Api
14.yang benar-benar
15.Perusuh Rakyat
16.Seperti engkau
17.Mimpi religius
18.Nasib dan Asumsi
19.Orientasi pada baju
20.Menjual Tangga
21.Jatuh Ke Kolam
22.Pada Sebuah Kapal
23.Jubah Hitam
24.Pelayan Raja
25.Sama rata sama rasa
26.Manipulasi deskripsi
27.Umur nasrudin
28.Bahasa Kurdi
29.Harga Kebenaran
30.Yang Tersulit
31.Harmoni buah-buahan
32.Cara Membaca buku
33.Penyelundup
34.Tampang itu perlu
35.Penyelundup
36.Tampang itu perlu
37.Miskin dan sepi
38.Hidangan untuk baju 1
39.Hidangan untuk baju 2
40.Menjemur baju
41.Bahasa Burung
42.Kekekalan massa
43.Terburu-buru
44.Periuk beranak
45.Jatuhnya jubah
46.bersembunyi
47.relatifitas keju
48.Anak kecil yang kurang ajar
49.Kebijaksanaan dari toko sepatu
50.bersembunyi dari pencuri
51.menebak isi tangan
52.Perlakuan sama tapi hasil beda
53.Tidak ada yang menawarkan keledai pengganti
54.menggunakan 2 alternativ
55.makan sop bebek
56.menolong bulan
57.siapa yang salah kalau kecurian
58.kehilangan sorban
59.memakai pakaian kabung
60.sedih karena keledai mati
61.Nasrudin ditangkap waktu perang
62.memberi nasihat gratis
63.menghabiskan halwa masakan istri
64.tidak ikhlas menolong
65.membantu orang membayar hutang
66.naik kapal yang mau tenggelam
67.susu dan garam
68.sekalian saja bawa semuanya
69.disuruh mengawasi pintu supaya tidak ada pencurinya
70.kera tahan bau \nasrudin
71.Nasrudin pergi bercukur
72.saya bukan sayuran

Info

  • Zoom Magazine is one of magazine Blogger template. Simple elegant with dropdown menu, image slide show and more...
  • Zoom Magazine adalah salah satu template blogger bergaya majalah. Silahkan ketik judul dan keterangan gambar anda disini...
Tampilkan postingan dengan label nasrudin hoja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasrudin hoja. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Juli 2010 | 11.24 | 0 Comments

Kebijaksanaan dari toko sepatu

Nasrudin diundang menghadiri sebuah pesta perkawinan.Sebelumnya, di rumah orang yang mengundang itu, ia pernah kehilangan sandal. Karenanya sekarang ia tidak lagi meninggalkan sepatunya di dekat pintu masuk, tapi menyimpannya di balik jubahnya.
“Buku apa itu di dalam sakumu?” tanya tuan rumah kepada Nasrudin.
“Ha, mungkin dia sedaang mencari-cari sepatuku,” pikir Nasrudin,

“untung aku dikenal sebagai kutu buku.”

Maka

Bersembunyi dari pencuri

Suatu malam seorang pencuri membobol rumah Nasruddin. Untung saja Nasruddin melihatnya. Karena takut, dengan cepat Nasruddin bersembunyi di dalam sebuah kotak besar yang terletak di sudut ruangan.
Si pencuri sedang mengaduk-aduk isi rumah Nasruddin mencari uang ataupun barang berharga yang dimiliki Nasruddin. Dia membuka lemari, laci-laci, kolong-kolong, dan lain-lain. la tapi tidak menemukan satu pun barang berharga.si pencuri...>

Pencuri itu hampir saja menyerah dan memutuskan untuk

Ujian menebak isi tangan

“Menurut pandangan umum, para Sufi itu gila,” gumam Nasrudin. “Menurut para orang bijak, mereka benar-benar penguasa dunia. Aku akan mengeceknya, supaya aku sendiri bisa yakin mana yang benar.”
Kemudian ia melihat seseorang yang tinggi besar, mengenakan jubah seperti seorang Sufi Akhdan.
“Sahabat,” kata Nasrudin, “aku ingin membuat sebuah percobaan untuk menguji kekuatan jiwamu, dan juga kesehatan rohaniku.”
“Boleh. Silakan mulai,” kata sang Akhdan.
Nasrudin membuat gerakan menyapu dengan tangannya, kemudian

Perlakuan sama tapi hasil beda

“Segala sesuatu yang ada harus dibagi sama rata,” ujar seorang filsuf di hadapan sekelompok orang di warung kopi.
“Aku tak yakin, itu akan terjadi,” ujar seseorang yang selalu ragu.
“Tapi, pernahkah engkau memberi kesempatan?” menimpali sang filsuf.
“Aku pernah!” teriak Nasrudin. “Aku beri istriku dan keledaiku perlakuan yang sama. Mereka memperoleh apa yang betul-betul mereka inginkan.”
“Bagus sekali!” kata sang filsuf. “Sekarang

Anak kecil yang kurang ajar

Nasrudin biasa duduk-duduk di teras sebuah warung kopi. Suatu hari, seorang anak kecil laki-laki berlari di hadapannya sambil memukul kepala Nasrudin sehingga sorbannya melayang. Tapi sang Mullah tidak bereaksi apa-apa. Hal yang sama terjadi terus selama beberapa hari. Yang selalu dilakukan sang Mullah adalah mengambil sorbannya yang terjatuh dan mengenakannya kembali.
Seseorang bertanya kepada Nasrudin mengapa ia tidak menangkap dan menghukum anak kecil itu, atau meminta orang lain untuk melakukanya.

Tidak ada yang menawarkan keledai pengganti

“Engkau memang telah kehilangan keledaimu, Mullah. Tetapi tidak perlu bersedih, lebih sedih dibanding ketika engkau kehilangan istrimu.”
“Ah, kalau saja kalian ingat. Ketika aku kehilangan istriku,

Menggunakan 2 alternativ

Seorang teolog sakit. Ia mendengar bahwa Nasrudin itu searang mistikus. Dan dalam keadaannya yang setengah sadar, ia merasa ada sesuatu di dalam dirinya.
Akhirnya ia dikirim kepada Nasrudin.
“Buatkan do’a yang bisa membuatku memasuki dunia lain, Mullah,” katanya. “Bukankah engkau terkenai pandai dalam berhubungan dengan dimensi lain.”
“Dengan senang hati,” kata Nasrudin.

Makan Sop Bebek

Nasrudin memandang beberapa ekor bebek yang kelihatannya akan lezat bila dimasak. Mereka sedang bersenang-senang di sebuah kolam. Ketika Nasrudin mencoba menangkapnya, bebek-bebek itu terbang.

Setelah itu ia celupkan beberapa patong roti ke dalam air dan kemudian melahapnya. Beberapa orang yang lewat bertanya apa yang ia lakukan itu.

Aku sedang makan sop bebek,” jawab Nasrudin kalem.


Menolong bulan

Ketika sedang berjalan-jalan, Nasrudin melewati sebuah sumur yang membuatnya ingin melihat ke dalamnya. Ketika itu hari mulai malam. Waktu Nasrudin menatap air dalam sumur itu, ia melihat bulan di sana.
“Aku harus menyelamatkan bulan!” pikir Nasrudin. “Jika tidak, ia tidak akan pernah beranjak, dan bulan puasa tidak akan pemah berakhir.”
Akhirnya, ia mendapatkan seutas tali, dan kemudian, ia pun berteriak:

Siapa yang salah kalau kecurian

Suatu hari Nasrudin dari istrinya pulang dan mendapati rumah mereka telah dimasuki pencuri. Segala sesuatu yang berguna dibawa kabur sang pencuri,
“Ini semua salahmu.” kata istrinya, “karena kamu selalu merasa yakin bahwa pintu rumah sudah terkunci sebelum kita pergi”
Para tetangga juga turut berkomentar: “Kamu sih tidak mengunci pintu-pintu,” ujar seorang tetangga.
“Heran.
Kenapa kamu tidak membayangkan apa yang bakal terjadi?” ujar yang lain. “Kunci-kunci ternyata sudah rusak dan kamu tidak menggantinya,” kata orang ketiga.
“Sebentar,” kata Nasrudin, “tentunya, aku bukan satu-satunya orang yang bisa kalian salahkan.”
“Lalu, siapa yang harus kami salahkan kalau bukan engkau?” teriak orang-orang dengan gemas…
“Lho? Kok bukan para pencuri itu?” kata Nasrudin.

Kehilangan sorban

Suatu hari Nasrudin kehilangan sehelai sorbannya yang bagus dan berharga mahal.
“Kamu tidak sedih Nasrudin?” seseorang bertanya kepadarnya.
“Tidak. Aku optimistis, kok. Kau sendiri lihat, aku telah menawarkan hadiah setengah sekeping uang perak bagi siapa saja menemukannya.”
“Tapi penemunya, tentu, tidak akan mengembalikan sorbanmu. Habis, hadiahnya tidak sebanding dengan nilai sorban yang seratus kali lipat itu.”
“Sudah kupikirkan itu. Aku juga sudah membuat pengumuman bahwa sorban yang hilang itu kondisinya kotor sekali dan tua, berbeda dengan yang sebenarnya.”

Memakai pakaian kabung

Nasrudin sedang berjalan di sepanjang jalan dengan mengenakan jubah berwarna biru tua ketika seseorang bertanya: “Mengapa engkau berpakaian seperti ini, Nasrudin? Apa ada yang meninggal?”

“Ya,” kata sang Mullah, “Kan bisa saja terjadi kematian, tanpa kita diberi tahu.”

Sedih karena keledai mati

“Huuu… huuuu…”
“Ada apa, Nasrudin?”
“Aku sedih sekali hari ini. Istriku sakit.”
“Oh, aku kira, keledaimu yang sakit.”
“Ya, memang betul. Tapi aku sedang melatih diriku agar terbiasa menghadapi kejutan dengan tahapan yang mudah dulu.”

Nasrudin di tangkap waktu perang

Ketika perang Salib, Nasrudin tertangkap dan dikenai kerja paksa di sebuah parit dekat benteng Aleppo. Kerja paksa itu, begitu melelahkan sehingga sang Mullah sering kali berkeluh kesah.

Suatu hari, seorang pedagang yang mengenalnya lewat di jalan tempatnya bekerja, dan kemudian menebus sang Mullah dengan tiga puluh uang keping perak. Nasrudin dibawa pulang oleh sang pedagang, dan diperlakukan dengan baik sekali. Sang pedagang, juga memberikan anak perempuannya kepada sang Mullah untuk diperistri.

Sekarang, hidup Nasrudin sudah lebih baik. Tapi tampaknya anak perempuan sang pedagang muiai suka marah-marah. “Engkau adalah laki-laki,” kata wanita itu suatu hari, “yang dibeli ayahku dengan harga tiga puluh keping perak. Ayahku kemudian memberikan engkau kepadaku.”
“Ya,” kata Nasrudin, “Ayahmu membayar tebusan sebanyak tiga puluh keping perak, lalu engkau tidak memperoleh apa-apa dari aku, dan aku sendiri sebenarnya juga sudah kehilangan otot-otot yang sudah kudapat sewaktu aku menggali parit-parit.”

Memberi nasihat gratis

Suatu hari Nasrudin pergi ke rumah hartawan untuk mencari dana. “Bilang sama tuanmu,” kata Nasrudin kepada penjaga pintu gerbang, “Mullah Nasrudin datang, mau minta uang.”

Sang penjaga masuk, dan kemudian ke luar lagi. “Aku khawatir, jangan-jangan, tuanku sedang pergi,” katanya.

“Ke sini. Ini ada pesan untuk tuanmu,” kata Nasrudin. “Meskipun ia belum memberi sumbangan, tapi tidak apa-apa, ini nasihat gratis buat tuanmu. Lain kali, kalau tuanmu pergi, jangan sampai ia meninggalkan wajahnya dijendela. Bisa-bisa dicuri orang nantinya.”

Menghabiskan halwa masakan istri

Suatu hari Nasrudin meminta istrinya untuk memasak halwa, masakan dari daging yang diberi bumbu dengan rasa manis. Istrinya memasak makanan itu dalam jumlah besar, dan Nasrudin hampir saja menyantap habis seluruhnya.

Malamnya, ketika mereka berdua sudah hampir lelap tertidur, Nasrudin mengguncang-guncang tubuh istrinya. “Eh, aku ada gagasan bagus.”
“Apa itu?”
“Bawa dulu ke sini sisa halwa yang masih ada. Baru setelah itu aku beri tahu gagasan yang ada di otakku.”

Istri Nasrudin segera bangkit dan mengambil sisa halwa yang langsung dilahap oleh sang Mullah.
“Sekarang,” kata istrinya, “aku tidak akan bisa tidur sebelum engkau ceritakan isi pikiranmu itu.”
“Idenya itu,” kata Nasrudin, “Jangan sekali-kali pergi tidur sebelum menghabiskan semua halwa yang telah dibuat pada hari itu juga.”

Tidak ikhlas menolong

Tidak etis jika kita selalu menyebut-nyebut pertolongan yang kita berikan kepada orang lain. Nasrudin hampir saja terjatuh ke dalam sebuah kolam. Tapi seseorang yang tidak terlalu dikenalnya berada di dekat tempat itu dan kemudian menolongnya. Setelah itu, setiap kali orang itu bertemu dengan Nasrudin, ia selalu mengingatkan kebaikan yang pernah dilakukannya terhariap sang Mullah.

Suatu kali, Nasrudin membawa laki-laki itu ke dekat kolam, kemudian sang Mullah menerjunkan dia ke dalam air. Dengan kepala menyembul di permukaan air, Nasrudin berteriak: “Kau lihat, sekarang aku sudah benar-benar basah, seperti yang seharusnya terjadi jika engkau dulu tidak menolongku! Sudah, pergi sana!”

Membantu orang membayar hutang

“Saudaraku,” kata Nasrudin kepada seorang tetangga, “aku sedang mengumpulkan uang untuk membayar utang seorang laki-laki yang amat miskin, yang tidak mampu memenuhi tanggung jawabnya.”
“Sikap yang amat terpuji,” komentar tetangga itu, dan kemudian memberinya sekeping uang.
“Siapakah orang itu?”
“Aku,” kata Nasrudin sambil bergegas pergi. Beberapa minggu kemudian Nasrudin muncul lagi di depan pintu tetangganya itu. “Kupikir, kau mau membicarakan soal utang,” kata sang tetangga yang sekarang tampak sinis.
“Betul demikian.”
“Ada seseorang yang tidak bisa membayar utangnya dan engkau mengumpulkan sumbangan untuknya?”
“Ya. Memang demikian adanya.”
“Lalu engkau sendiri yang meminjam uang itu?”
“Tidak untuk saat ini.”
“Aku senang mendengarnya. Ini ambillah sumbangan ini.”
“Terima kasih…”
“Satu hal, Nasrudin. Apa yang membuatmu begitu bersikap manusiawi terhardap masalah yang khusus ini?”
“Oh, rupanya kamu tahu… akulah yang memberi pinjaman.”

Menuang gandum yang bukan miliknya

Nasrudin kedapatan sedang menuang gandum milik tetangganya ke dalam karung gandumnya di toko koperasi. Akhirnya ia dibawa ke pengadilan.

“Saya memang bodoh. Saya tidak bisa membedakan antara gandum mereka dengan gandum saya,” katanya. “Kalau begitu kenapa tidak kau tuangkan saja gandummu ke kantong orang lain?” tanya hakim.

“Tapi saya bisa membedakan yang mana gandum saya di antara milik orang lain. Saya kan tidak sebodoh itu!”

Naik Kapal yang mau tenggelam

Kapal tampaknya mulai tenggelam. Para penumpang yang sebelumnya menertawakan peringatan Nasrudin yang meminta mereka agar bersiap-siap untuk kehidupan akhirat, mulai berlutut dan berteriak-teriak minta tolong. Mereka berdoa, mereka berjanji untuk berbuat sebanyak mungkin kebajikan jika mereka selamat.

“Teman-teman!” teriak Nasrudin. “Jangan boros dengan kata-kata bagus itu. Percayalah! Aku melihat daratan!”
“Hah?” semua penumpang membelalak.
“Apa? Apakah kalian tidak jadi meneruskan tobat dan berbuat baik?” tanya Nasrudin.

 
Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free! >>>
Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by Jurnalborneo.com
Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.